Harga Solar Bisa Terkerek, Dampak Perang Iran-Israel Merambat ke Pasar Domestik

Nasional10 Dilihat

B120news.com– Ketegangan di kawasan Timur Tengah antara Iran melawan Israel yang didukung Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas biaya logistik global.

Apabila jalur perdagangan energi utama dunia terganggu, dampaknya diperkirakan tidak hanya terasa pada pasar minyak internasional, tetapi juga dapat merambat hingga biaya distribusi barang di Indonesia.

Sebagai negara yang masih sangat bergantung pada transportasi darat untuk distribusi logistik, Indonesia berpotensi menghadapi kenaikan biaya apabila harga bahan bakar ikut terdorong naik.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memicu kenaikan harga barang di tingkat konsumen.

Founder dan CEO Supply Chain Indonesia, Setijadi, mengatakan potensi gangguan pada jalur energi global bisa menimbulkan efek berantai terhadap harga energi internasional.

“Eskalasi konflik di Timur Tengah dan potensi gangguan di Selat Hormuz dapat meningkatkan biaya distribusi nasional dan mendorong kenaikan harga barang di dalam negeri,” ujar Setijadi dalam keterangannya, Senin (2/2/2026).

Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis dalam perdagangan energi dunia. Kawasan ini dilalui sekitar 20 persen konsumsi minyak global serta 20 hingga 25 persen perdagangan LNG dunia.

Setiap gangguan di jalur tersebut berpotensi langsung memicu lonjakan harga energi internasional.

“Jika terjadi gangguan di jalur ini, harga energi global berpotensi terdorong naik,” katanya.

Kenaikan harga energi global biasanya akan ditransmisikan ke dalam negeri melalui harga bahan bakar, khususnya solar yang menjadi komponen utama operasional kendaraan logistik.

“Dampaknya ke Indonesia terjadi melalui transmisi harga minyak global Brent ke harga solar domestik. Solar merupakan komponen utama biaya operasional transportasi jalan yang masih menjadi tulang punggung sistem logistik nasional,” jelasnya.

Menurut Setijadi, lonjakan harga energi memiliki pengaruh signifikan terhadap biaya operasional angkutan barang.

Bahkan, perubahan kecil pada harga bahan bakar dapat berdampak besar terhadap ongkos distribusi.

“Dengan asumsi komponen BBM mencapai sekitar 35 sampai 40 persen dari total biaya operasi truk, kenaikan harga solar 10 persen dapat mendorong kenaikan ongkos angkut sekitar 3,5 sampai 4 persen,” ujarnya.

Kenaikan tersebut berpotensi semakin besar jika harga solar melonjak lebih tinggi. Apabila harga solar naik 20 persen, ongkos truk diperkirakan meningkat 7 hingga 8 persen.

Dalam skenario lebih berat, ketika solar naik hingga 30 persen, ongkos angkut bisa melonjak 10,5 sampai 12 persen.

Kondisi itu dinilai akan memberi tekanan pada harga barang di pasar, terutama produk yang memiliki porsi biaya logistik cukup besar dibanding harga jualnya.

“Rata-rata biaya logistik di Indonesia sekitar 14 persen dari harga produk. Jika ongkos truk naik 7 sampai 8 persen, harga barang dapat terdorong naik sekitar 0,5 persen, bahkan mendekati 0,8 persen jika kenaikan ongkos angkut melebihi 10 persen,” kata Setijadi.

Dengan demikian, eskalasi konflik di Timur Tengah tidak hanya menjadi isu geopolitik, tetapi juga berpotensi berdampak langsung pada daya beli masyarakat melalui kenaikan harga barang di dalam negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *