Maut di Himalaya, Banjir Bandang Nepal-Tibet Telan 472 Nyawa

B120news.com- Jumlah korban tewas akibat banjir bandang dahsyat yang menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China, terus bertambah.

Sedikitnya 472 orang dikonfirmasi tewas, sementara lebih dari 1.400 orang lainnya masih dinyatakan hilang di Nepal.

Seperti dilansir AFP dan The Guardian, Jumat (28/8/2026), Kepolisian Nepal melaporkan jumlah korban tewas di wilayah Nepal telah mencapai sedikitnya 469 orang.

Angka tersebut diumumkan sekitar 48 jam setelah bencana menerjang pada Rabu (26/8) pagi waktu setempat.

Sementara itu, media pemerintah China mengonfirmasi sedikitnya tiga orang tewas di wilayah Tibet.

Dengan demikian, total korban meninggal di kedua wilayah tersebut mencapai sedikitnya 472 orang.

Di Nepal, lebih dari 1.400 orang masih dinyatakan hilang, termasuk ratusan warga negara asing (WNA) dari puluhan negara.

Laporan terpisah televisi pemerintah China, CCTV, pada Kamis (27/8) menyebutkan 558 orang hilang di kawasan Gyirong, Tibet.

Sebanyak 260 orang di antaranya merupakan WNA. CCTV disebut menjadi sumber utama informasi mengenai perkembangan bencana di wilayah Tibet.

Menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), bencana tersebut dipicu oleh runtuhnya gletser yang kemudian menghasilkan aliran deras berisi bebatuan, material es, lumpur, dan puing-puing yang menerjang sistem sungai di kawasan pegunungan Himalaya.

Perubahan iklim juga disebut meningkatkan risiko bencana serupa karena mempercepat pencairan gletser di berbagai wilayah dunia. Kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi banjir danau glasial maupun runtuhnya gletser.

Banjir bandang menerjang sejumlah desa dan lembah di Nepal, dengan Rasuwa menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah.

Sejumlah saksi mata menggambarkan derasnya aliran air dingin bercampur lumpur tersebut seperti “tsunami”.

Terjangan banjir menghancurkan permukiman, menimbun rumah, merusak pembangkit listrik, jembatan dan bendungan, serta menyeret kendaraan di sepanjang jalur yang menghubungkan Kathmandu dengan Lhasa, Tibet.

Jalur tersebut merupakan salah satu rute yang populer di kalangan pendaki dan peziarah.

Operasi pencarian dan penyelamatan korban terkendala kerusakan parah pada puluhan jembatan dan ruas jalan sepanjang sekitar 40 kilometer di kawasan pegunungan tersebut.

Tim penyelamat mengerahkan alat berat untuk membongkar timbunan lumpur dan puing-puing di sejumlah wilayah terdampak.

Helikopter juga dikerahkan untuk mencari korban selamat sekaligus menyalurkan bantuan darurat kepada ribuan warga yang terisolasi.

Tim darurat, termasuk personel dengan anjing pelacak, turut dilibatkan dalam operasi pencarian. Namun, seiring waktu berlalu, peluang menemukan korban dalam kondisi selamat semakin menipis.

Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, yang mengunjungi wilayah terdampak pada Kamis (27/8), mengakui kondisi di lapangan masih sulit.

“Semua instansi pemerintah beroperasi dengan kapasitas penuh. Prioritas utama kami saat ini adalah menyelamatkan nyawa setiap warga, melakukan pencarian dan penyelamatan terhadap korban hilang, merawat para korban luka, dan memberikan bantuan segera kepada keluarga-keluarga yang terdampak,” ujar Shah dalam pernyataannya, seperti dilansir Reuters.

Editor : Darwis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *