B120news.com- Amerika Serikat (AS) tak berdaya menghadapi Iran. Presiden Donald Trump bahkan disebut frustrasi hingga dipermalukan di mata dunia.
Kondisi tersebut memicu kritik tajam dari Kanselir Jerman Friedrich Merz yang menilai Washington gagal mengendalikan situasi dan justru terus dipermainkan Teheran di meja diplomasi.
Mengutip laporan The Guardian, Merz menyebut tim negosiasi Iran jauh lebih cerdik dalam memainkan strategi perundingan.
Ia menilai pemerintahan Trump terlihat kebingungan mencari jalan keluar dari konflik yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Pernyataan tersebut disampaikan Merz saat berbicara di hadapan mahasiswa di Marsberg, Jerman.
Dalam forum itu, ia secara terbuka menyindir kegagalan delegasi Amerika yang bolak-balik melakukan pembicaraan tidak langsung di Islamabad tanpa menghasilkan kesepakatan berarti.
“Orang-orang Iran jelas sangat terampil dalam bernegosiasi, atau lebih tepatnya sangat terampil dalam tidak bernegosiasi, membiarkan orang-orang Amerika melakukan perjalanan ke Islamabad dan kemudian pergi lagi tanpa hasil apa pun,” ujar Merz, Minggu (3/5/2026).
Merz juga menilai situasi tersebut menjadi tamparan keras bagi wibawa Amerika Serikat di mata internasional.
Ia bahkan menyebut kepemimpinan Iran, khususnya Pengawal Revolusi Iran, berhasil membuat Washington kehilangan arah dalam konflik berkepanjangan tersebut.
“Seluruh bangsa sedang dipermalukan oleh kepemimpinan Iran, terutama oleh kelompok yang disebut Pengawal Revolusi ini. Dan saya berharap hal ini berakhir secepat mungkin,” katanya.
Kritik tersebut muncul setelah Donald Trump membatalkan rencana lanjutan perjalanan tim negosiator AS ke Islamabad.
Sebelumnya, Wakil Presiden JD Vance sempat memimpin delegasi Amerika dalam pembicaraan dengan pihak Iran di Pakistan, namun pertemuan itu berakhir tanpa kemajuan berarti.
Di tengah tekanan politik dan tenggat hukum domestik, Trump kini dihadapkan pada pilihan sulit.
Mulai dari mendorong kesepakatan damai yang peluangnya tipis, melanjutkan perang dengan risiko invasi besar, hingga mempertahankan strategi blokade jangka panjang terhadap Iran.
Trump akhirnya memilih mempertahankan blokade tanpa batas waktu sebagai opsi paling aman.
Namun langkah tersebut tetap dinilai berisiko tinggi karena dapat memicu serangan balasan Iran terhadap jalur energi strategis di kawasan Teluk.
Sejumlah analis menilai situasi tersebut membuat posisi Amerika semakin terpojok.
Alih-alih tampil sebagai pemenang, Washington justru dinilai kehilangan pengaruh, sementara Iran dianggap mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi maupun militer dari Barat.









