B120news.com– Aksi unjuk rasa ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Wija To Luwu Menggugat di depan Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Senin (12/1/2026), berujung ricuh.
Aksi yang mendesak dukungan Pemerintah Provinsi Sulsel terhadap pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) Luwu Tengah itu diwarnai bentrokan hingga dugaan keterlibatan oknum aparatur sipil negara (ASN) yang terekam membawa senjata tajam.
Sejak siang hari, aksi tersebut melumpuhkan arus lalu lintas di Jalan Urip Sumoharjo. Kemacetan mengular hingga sekitar dua kilometer.
Situasi di lokasi kian memanas saat massa berupaya masuk ke area Kantor Gubernur yang dijaga ketat oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan aparat kepolisian.
Ketegangan akhirnya pecah menjadi bentrokan. Aksi saling lempar terjadi antara massa aksi dengan petugas Satpol PP serta sejumlah oknum pegawai.
Dalam rekaman video yang beredar, tampak seorang oknum yang diduga ASN memegang senjata tajam jenis busur di tengah situasi yang belum terkendali.
Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu Raya (PB IPMIL Raya), Abdul Hafid, menegaskan bahwa tuntutan massa hanya satu, yakni bertemu langsung dengan Gubernur Sulawesi Selatan untuk meminta dukungan politik atas pemekaran Luwu Tengah.
“Kami datang untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka dan damai. Kami ingin Gubernur Sulsel menyatakan sikap mendukung pemekaran DOB Luwu Tengah,” kata Hafid.
Ia menilai, kericuhan tersebut tidak terlepas dari pola pengamanan yang dinilainya berlebihan serta adanya oknum yang justru memperkeruh suasana. Menurutnya, tindakan tersebut mencederai ruang demokrasi dan hak warga negara dalam menyampaikan pendapat di muka umum.
“Alih-alih ditemui, kami justru dihadapkan pada tindakan represif. Bahkan ada oknum yang membawa senjata. Ini sangat kami sesalkan,” tegasnya.
Meski demikian, Hafid memastikan perjuangan aliansi tidak akan berhenti. Mahasiswa dan masyarakat Luwu Raya, kata dia, akan terus menggelar aksi hingga Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menyatakan sikap secara terbuka.
“Jika hari ini belum didengar, kami akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar,” pungkasnya.
(Mahendra)







